Tari Baris Tekok Jago di Desa Tegal Darmasaba

January 9, 2010

Sekaa atau grup tari Baris Tekok Jago ini berdiri tahun 1927, bertempat di pura Dalem Gegelang atas prakarsa “sekaa majukut” kelompok tani pimpinan I Ngilis (almarhum).
Pada mulanya, ada upacara Pitrayadnya (pelebon/ngaben) di jeroan gede banjar Gulinga, Tegal Darmasaba. Pada waktu pelaksanaan upacara tersebut, dipentaskan tari baris yang bernama “Ketekok Jago” dan Tembau, Kesiman. Kesenian tersebut ternyata mampu menarik perhatian masyarakat desa Tegal, Darmasaba, terutama masyarakat tani banjar Tengah. Hal itu disebabkan karena selain masyarakat tersebut dalam kegiatannya sehari-hari sebagai petani, juga mereka senang dengan kesenian tari dan tabuh. Maka setelah peristiwa pelebon di jeroan gede itu selesai, masyarakat banjar Tengah giat sekali mempelajari tari Baris Tekok Jago tersebut. Tentu saja dengan Karapan nantinya akan dapat dipergunakan untuk sarana dalam upacara “dewa yadnya” maupun dalam upacara pitrayadnya, terutama di desa Tegal Darmasaba.
Kemudian, pementasan mereka yang pertama yang disebut dengan istilah “nyisiang” (perdana) dilakukan di jaba (halaman) pura dalem Gegelang, bertepatan dengan upacara dewayadnya “ngenteg linggih”.
Demikianlah asal mulanya, dan sampai sekarang kesenian tersebut tetap dilestarikan dan bahkan dikeramatkan.

Fungsi Tari Baris Tekok Jago di Tegal Darmasaba.
Sebagaimana halnya dengan tari Baris Tekok Jago di Tangguntiti maupun di banjar Begawan, maka fungsi tari Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba ini pun untuk kepentingan upacara Pitrayadnya dan bahkan juga untuk upacara Dewayadnya.

Kondisi Baris Tekok Jago di Tegal Darmasaba
1 Pelaku / Penari
Jumlah penari seluruhnya 20 (dua puluh) orang, semuanya laki-laki. Seperti halnya, di tempat lain, maka dari sejumlah penari tersebut dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, yakni : sebagian menjadi angsa dan sebagiar besar lainnya menjadi burung gagak.
Analisa penulis sendiri nama “Tekok Jago” berasal dari peran yang dibawakan oleh penari yang merupakan jenis burung dan unggas.

2 Perbendaharaan Gerak
Gerakan gerakan yang dipergunakan berjumlah 12 (dua belas) macam, sebagai berikut :
• Gandang-gandang, yakni gerakan berjalan ke depan lambat-lambat, kaki kiri dan kanan maju bergantian. Tangan kanan memegang tombak, dipanggul di puncak kanan dan tangan kiri di pinggang.
• Kipekan, yakni gerakan kepala menoleh dengan sigap ke sudut kanan dan ke sudut kiri.
• Tanjek, yakni gerakan tanda berakhir dari suatu gerakan. Caranya dengan berhenti dengan salah satu kaki di depan. Tanjek ada dua macam, yaitu : tanjek kanan dan tanjek kiri.
• Agem, yakni sikap awal dalam keadaan siap. Agem dapat dibagi dua, masing-masing:
- Agem dengan membawa tombak; sikap kaki sirang pada, tangan kanan memegang tombak, dipanggul di pundak kanan, dan tangan kiri di pinggang.
- Agem dengan memegang selendang; kaki sirang pada, tangan memegang selendang.
• Gelatik nuut papah, yakni gerakan yang didahuli dengan angsel, sikap tangan memegang tombak yang dipanggul di pundak kanan, dengan gerakan tombak menghadap ke atas dan ke bawah saling bergantian, sedangkan tangan kiri di pinggang. Sikap ini disertai dengan gerakan kaki ke kanan maupun ke kiri dengan cara menyilangkan. Kemudian diikuti gerakan badan dimiringkan sesuai dengan arah kaki.
• Tanjek dua, yakni gerakan berjalan ke depan, sambil menghentakkan kaki sebanyak dua kali.
• Ulap-ulap, yakni gerakan lengan sambil memegang selendang. Semantara itu kepala menoleh ke kiri atau ke kanan, seakan-akan memperhatikan sesuatu.
• Nengkleng, yakni gerakan dengan satu kaki diangkat tinggi-tinggi setinggi lutut. Kaki kanan dan kiri digerakkan bergantian.
• Ngerajeg, yakni gerakan yang menunjukkan atau menandakan tarian akan selesai. Gerakan ini terdiri dari : kaki kiri diangkat setinggi lutut, badan agak merendah, tangan kiri di depan dada, tangan kanan tetap memegang tombak yang dipanggul di pun¬dak kanan.
• Ngegol, yakni gerakan menggoyangkan pinggul ke diri dan kanan, disertai sikap badan agak merendah. Tombak dipegang dengan kedua tangan, diayun ke kiri dan ke kanan.
• Ngitir, yakni gerakan seperti ngegol namun diikuti dengan ge¬rakan kaki yang digeser agak lambat ke kiri maupun ke kanan.
• Ngindang, yakni gerakan berjalan ke kiri dan ke kanan dengan posisi badan dimiringkan sesuai dengan arah kaki dan kedua tangan memegang selendang (jung selendang).
• Maaras-arasan, yakni gerakan leher ke kiri dan ke kanan mulai dari lamban kemudian cepat. Gerakan ini dilakukan berpasangan (berhadap hadapan), tangan saling berpegangan.
• Angsel, yakni gerakan yang menandakan suatu perubahan dari gerakan satu kepada gerakan lain.

3 Tema
Tema tari Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba ini pun tidak berbeda dengan tema tema yang dibawakan oleh Baris Tekok Jago di daerah lainnya, yakni terjadinya perang antara “kebaikan melawan kejahatan” yang berakhir dengan kemenangan berada di pihak kebenaran. Adapun cerita yang bisa dibawakan, secara singkat dapat diuraikan sebagai berikut :
Dua ekor angsa yang sedang mengerami telor mereka tiba-tiba didatangi oleh sekelompok burung gagak. Sekelompok burung gagak itu bermaksud tidak baik yakni ingin mencuri telur angsa itu.
Kedua angsa itu turun dan menghalangi niat jahat burung-burung gagak tersebut. Akhirnya terjadilah perang yang akhirnya kemenangan berada di pihak angsa.
Tema semacam ini tentulah dimaksudkan agar kejahatan yang senantiasa menghadang dapat dikalahkan. Atau secara khusus agar para bhutakala yang ingin mengganggu perjaianan roh menuju kuburan dapat dikalahkan, atau setidak-tidaknya dapat “dibujuk” agar tidak mengganggu. Hai ini tampak jelas manakala para penari tersebut menghaturkan sesajen di perempatan atau pertigaan jalan yang dilalui pada waktu membawa mayat ke kuburan.

4 Tata-busana
Bhusana atau kostum yang dipergunakan pada waktu menari terdiri dari :
• Gelungan
• Celana panjang warna putih tetapi pada bagian bawahnya ada strip strip hitam putih (poleng).
• Baju lengan panjang : pada badan warna hitam putih kotak-kotak, lengan berwarna lurik (putih, kuning, hijau, dan hitam).
• Kain putih
• Saput, warna hitam putih (poleng)
• Saput, warna hitam putih (poleng)
• Badong; hiasan leher

• Awir; terdiri dari bermacam macam warna, berbentuk segi empat. Tepinya, dihiasi dengan rambu rambu merah dan kuning.
• Selendang.
Selain kostum di atas, para penari membawa juga perlengkapan lainnya seperti : keris, dipasang atau diselipkan di punggung dan sebuah tombak. Tombak diberi warna strip strip hitam putih. Pada bagian atas diberi hiasan bulu merak.

5 Upacara / Upakara pementasan
Sebagaimana halnya dengan tradisi pada kegiatan tari Baris Tekok Jago lainnya, maka begitu pula halnya dengan tradisi Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba yang selalu membuatkan upacara dengan sarana sesajen pada waktu akan melakukan pementasan. Tujuannya sudah tentu mohon keselamatan kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Pada umumnya upacara tersebut dilakukan pada waktu menjelang pentas, kemudian pada waktu pentas dan terakhir ketika sudah selesai pentas. Seluruh jenis sesajen yang dipergunakan dapat dirangkum sebagai berikut :
1) Daksina gede
2) Peras ajengan
3) Pangresikan / biaakaonan
4) Nasi rongan
5) Ulam / lauk pauk karangan
6) Pajegan dengan ulam pajegan
7) Segehan agung
8) Ketipat / ketupat tampul
Selain sesajen untuk Baris itu sendiri, juga dibuatkan sesajen untuk keperluan alat-alat gambelan, yang lazim disebut “banten gong”. Adapun jenisnya adalah sebagai berikut :
1) Peras
2) Daksina
3) Sodan
4) Segehan
5) Ketipat kelanan
6) Ketipat gong

6 Tempat Pementasan
Tempat pementasan tari Baris ini disebut juga “kalangan” atau berbentuk arena. Dibuat bebas dan bersifat darurat. Tempat bermain ini biasanya di halaman pura dan juga di halaman kuburan. Apabila pentas di pura untuk suatu upacara Dewayadnya, maka kalangannya dibuat di “jaba” tengah, tanpa menggunakan “langse” atau hiasan lainnya secara khusus. Sedangkan apabila Baris tersebut pentas di kuburan, dalam suatu upacara Pitrayadnya, maka kalangan dibuat di dekat pembakaran mayat. Juga tanpa “langse” atau dekorasi khusus lainnya.

7 Iringan
Tari Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba ini mempergunakan seperangkat gambelan gong kebyar. Kalau di Tangguntiti, maupun di Begawan Pedungah, dipergunakan sebagian kecil dari gambelan gong kebyar, di banjar Tengah ini dipergunakan hampir seiuruh instrumen, kecuali gambelan terompong.
Adapun jenis jenis gambelan / instrumen yang dipakai adalah :
1) Kendang 2 (dua) buah
2) Suling
3) Cengceng
4) Giying / pengugal
5) Pemade 4 (empat) buah
6) Kantil 4 (empat) buah
7) Jublag 2 (dua) buah
8) Kajar
9) Kenong
10) Reong
11) Jegogan 2 (dua) buah
12) Kempur dan gong
Sedangkan lagu-lagu yang dipergunakan adalah :
1) Lagu Omang
2) Lagu Barong
3) Lagu Kale
4) Lagu Pengeset Jauh luh
8 Komposisi Tari
Komposisi atau “paileh” tari Baris Tekok Jago di banjar Tengah, Tegal Darmasaba ini dapat diuraikan sebagai berikut :
• Para penari berderet tiga memanjang, dengan perlengkapan tombak yang dipanggul dipundak kanan, perlahan-lahan maju ke arena dengan gerak “gandang arep” terus ngangsel. Gerakan ini disertai dengan agem kanan dan agem kiri dan dilanjutkan dengan tanjek dua, nengkleng berganti ganti kaki kanan dan kiri. Kemudian kembali angsel dilanjutkan dengan gerakan gelatik nuut papah ke kanan dan ke kiri. Gerakan ini dilanjutkan dengan tanjek kanan, terus gandang arep.
• Posisi kedua, sama dengan posisi pertama.
• Posisi ketiga, semua penari menghadap ke samping kanan de-ngan badan agak membungkuk, diikuti dengan gerakan ngegol, tombak dipegang dengan kedua tangan merentang di depan lutut, diayun ke muka dan ke belakang. Kemudian tombak diletakkan di bawah, dilanjutkan dengan mengambil selendang (sebagai sayap) lalu mengibas-ngibaskannya dalam posisi “ngitir” mengelilingi para penari lainnya yang masih jongkok. Dilakukan berulang-ulang dengan gerakan maaras-arasan, berganti ganti.
• Posisi keempat, sama dengan posisi pertama. Gerakannya nengkleng ke kiri dan ke kanan, berganti ganti. Selanjutnya, barisan terdapat berbalik hadap, dengan teriakan “kuuk”, diikuti oleh yang lainnya secara serempak. Tombak diayun ke depan seperti pasukan berperang.
Perlu ditambahkan bahwa, setiap pergantian posisi diisyaratkan dengan teriakan “kuuk”. Ini juga sebagai pertanda agar penabuh mengganti lagu / gending.

9 Susunan Kepengurusan
Pemangku pura Dalem Gegelang : I Wayan Wintar.
Ketua : I Ketut Rinus.
Sekretaris : I Kadek Sura.
Bendahara : I Wayan Cendra.
Susunan kepengurusan ini merupakan generasi ketiga dalam jabatan ketua sepeninggal I Ngilis (alm) kemudian dilanjutkan oleh Wayan Tinas yang juga merupakan ketua dari perkumpulan seka Arja Basur di desa Tegal Darmasaba. Setelah itu dilanjutkan oleh I Ketut Rinus yang merupakan anak dari I Ngilis.
Jika dilihat dari sejak berdirinya maka regenerasi dari kepengurusan maupun penari dari sekaa ini bisa disebut lambat, karena pada masa sekarang perhatian masyarakat kurang terhadap kesenian dan kurangnya pembinaan di dalam kepengurusan maupun penari. Hal ini juga disebabkan karena para penari hanya meneruskan apa yang dilakukan oleh orang tuanya karena tidak sembarang orang boleh menarikan tari Baris ini. Para penarinya dipilih oleh ketua yang merupakan pengayah (peletan) di pura Dalem Gegelang.

Kesimpulan.
Tari Baris Tekok Jago di desa Tegal Darmasaba merupakan tari upacara yang biasanya ditarikan untuk upacara Pitra yadnya (ngaben) maupun Dewa yadnya.. Karena tari ini merupakan tari upacara jadi tidak terlalu mementingkan dari estetika melainkan lebih mementingkan fungsinya. Ini terlihat dari gerak yang sederhana dengan tatabusana yang sederhana pula dan tidak memerlukan tempat pementasan yang khusus.
Kurangnya perhatian dari masyarakat menyebabkan regenerasi dari tari Baris Tekok Jago ini menjadi lambat. Hal ini juga disebabkan karena para penarinya merupakan pengayah (peletan) dari pura Dalem Gegelang.

DAFTAR PUSTAKA

Asnawa, I Ketut Gede. et. al. Mengenal Beberapa Sikap Atau Gerak Dalam Tari Bali. Akademi Seni Tari Indonesia: Denpasar. 1979.

Bandem, I Made. Ensiklopedi Tari Bali. Akademi Seni Tari Indonesia, Bali Post Offset: Denpasar. 1983.

Dibia, I Wayan. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Masyarakat Seni Pertunukan: Bandung. 1999.

Ebuh, I Made et. al. Deskripsi Tari Baris Tekok Jago. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bali: Denpasar. 1990.

INFORMAN

Nama : I Ketut Rinus.
Tempat tanggal lahir : Darmasaba, 1942
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Petani & ketua perkumpulan (seka) tari Baris Tekok Jago di desa Tegal Darmasaba.
Alamat : Br. Tengah, Tegal Darmasaba, Abiansemal, Badung.

Tari Radha Sudana

January 8, 2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kontak kebudayaan Hindu yang berasal dari India telah menghasilkan kekayaan seni yang luar biasa di Indonesia oleh karena selalu melibatkan seni dalam upacara-upacara keagamaannya. Pulau Bali merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang tetap melestarikan dan mengembangkan seni yang mendapat pengaruh dari India. Proses akulturasi antara agama Hindu-India dan Hindu yang berasal dari Jawa Timur, serta kepercayaan masa pra-hindu atau pra-sejarah menghasilkan seni masyarakat Hindu Bali (Hindu Dharma) yang sangat berbeda dengan seni yang berkembang di India, termasuk pula seni tari yang berkembang di dalamnya.
Berdasarkan konteks budaya, usia dan perjalanan sejarah dari tari-tarian Bali yang ada, maka tari Bali dapat diklasifikasikan menjadi tari klasik/tradisional dan tari kreasi baru. Tari kreasi baru merupakan karya tari yang diciptakan pada jaman modern ini yang lebih menekankan pada penampilan ungkapan budaya modern.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan transportasi, tari-tarian pun ikut mengalami perkembangan dan mendapat pengaruh dari budaya luar seperti, Cina, India, Jawa, dan sebagainya. Dari pengaruh tersebut muncul tari-tarian kreasi yang bernuansa baru. Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, kemudian muncul lembaga-lembaga pendidikan formal di bidang seni. Pendidikan formal di bidang seni mengajarkan seni sebagai sebuah profesi seperti yang diajarkan di ISI (Institut Seni indonesia) Denpasar. Dalam pendidikan formal ini para mahasiswanya diajarkan cara-cara pendidikan tari sebagai profesi dalam hidupnya sesuai dengan Tri Dharma perguruan tinggi, salah satunya adalah…….. dari pedidikan seni seperti ini maka memunculkan berbagai kesenian yang berupa seni kreasi yang menggabungkan berbagai unsur seni maupun jenis kesenian baru seperti seni kontemporer.
Salah satu tari yang dibahas adalah tari Radha Sudana yang merupakan hasil karya alumnus mahasiswa ISI Denpasar. Tari ini dipentaskan berkaitan dengan tugas akhir sebagai syarat untuk meraih gelar sarjana. Tari ini merupakan hasil penggabungan antara unsur seni India dan Bali.

1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana bentuk pengaruh kebudayaan India dalam tari Radha Sudana?
b. Apa dampak dari pengaruh kebudayaan India terhadap tari Radha Sudana?
c. Bagaimana keberlangsungan tari Radha Sudana?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Tari Radha Sudana
Karya tari Radha Sudana adalah sebuah karya tari kreasi yang digarap oleh Ida Ayu Gede Prayitna Dewi sebagai tugas akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Seni tahun 2008. Tari ini berbentuk kelompok yang terdiri dari enam orang penari, yaitu tiga orang penari putra dan tiga orang penari putri. Karya tari ini mengangkat tema percintaan yang berasal dari awatara Kresna tentang kisah cinta Kresna dengan Radharani di desa Vrindawan.
Tari Radha Sudana terinspirasi dari sebuah gambar Kresna dan Radharani yang membawa kendi. Kendi dan seruling kemudian dijadikan properti dalam garapan ini. Keindahan gambar tersebut membuat penggarap merasa senang dengan tokoh tersebut dan dapat memenuhi seleranya. Penggarap membuat garapan ini karena penggarap senang dengan tokoh Kresna dan Radha. Penggarap sendiri merasa pas dengan tokoh Radha karena tokoh tersebut memiliki karakter sedikit merakyat yang dikarenakan Radharani merupakan seorang gadis desa. Menurut penggarap sendiri Radharani bukanlah sosok putri halus melainkan seorang gadis desa yang memiliki karakter halus dan lincah. Karakter ini dirasa sangat cocok dengan penggarap sendiri.
Garapan ini berdurasi kurang lebih 11 menit dengan diiringi oleh seperangkat gamelan Gong Kebyar yang didukung oleh Sekaa Gong Padepokan Ulu Chandra, Tampaksiring, Gianyar, di bawah pimpinan I Ketut Sutedja.
Selain itu, hal yang paling penting dalam sebuah tarian adalah isi atau makna maupun pesan-pesan yang ingin disampaikan penata melalui garapan tarinya tersebut. Dengan segala isi, makna, dan pesan, karya tari seringkali dikatakan indah walaupun struktur, bentuk, kehalusan, keselarasan, dan kerumitan mungkin tidak indah. Adapun pesan yang terkandung dalam garapan tari ini adalah sebagai seorang wanita hendaknya memiliki kesetiaan, jiwa yang besar, dan tabah ketika pasangan hidup kita pergi untuk menjalankan tugas demi kepentingan masyarakat dan negara.

2.2 Bentuk Pengaruh Kebudayaan India Dalam Tari Radha Sudana.
Pengaruh yang dapat dilihat dalam garapan ini adalah dari segi cerita yang sudah jelas menggunakan cerita yang berasal dari India, yaitu menceritakan kisah percintaan antara Kresna dengan Radharani di desa Vrindawan dalam cerita Mahabharata. Dari tokoh yang digunakan dapat dilihat dari Kresna India yang mempunyai identitas bulu merak dan Radha membawa kendi yang merupakan ciri khas dari masyarakat pedesaan di India yang mengambil air dengan kendi. Gerak yang digunakan tentunya juga mendapat pengaruh dimana penggarap memasukkan gerakan yang mempunyai nuansa India seperti, hentakan kaki dan pose Kresna memainkan seruling dengan kaki di silang yang merupakan ciri khas Kresna yang ada di India.
Dalam garapan tari Radha Sudana, kostum yang digunakan dibuat bernuansa India yang dikreasikan dengan kostum tari Bali. Dalam hal ini, kostum tersebut masih memperlihatkan identitas dari tokoh yang dimainkan. Hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan bulu merak dan kostum yang dominan berwarna hijau pada tokoh Kresna yang merupakan identitas Kresna yang ada di India sebagai lambang kewibawaan Kresna. Hal lain yang dapat dilihat adalah pemakaian baju setengah lengan dengan kain yang pemakaiannya terkesan dililit menandakan ciri khas dari penggunaan pakaian wanita India, serta penggunaan gelang kaki yang berisi lonceng berwarna hijau. Selain itu juga dapat dilihat dari hiasan kepala bagian belakang yang seperti hiasan kepala wanita India. Properti yang digunakan dalam tari Radha Sudana ini adalah seruling dan kendi. Properti inilah yang semakin menguatkan pengaruh India.
Dalam permainan iringannya juga dibuat agar terkesan seperti permainan seruling, pemukulan kendang yang seperti pemukulan rebana dan penggunaan vokal dengan notasi seperti dalam tari India.

2.3 Dampak dari Pengaruh Kebudayaan India Terhadap Tari Radha Sudana
Pengaruh kebudayaan India tersebut juga berdampak terhadap tari Radha Sudana ini yang dapat dilihat dari perbendaharaan geraknya yang cenderung dipadukan dengan gerak-gerak khas India. Dari segi kostum terdapat perpaduan antara kostum India dengan kostum Bali, termasuk juga pada iringannya.

2.4 Keberlangsungan Tari Radha Sudana
Keberadaan tari sesungguhnya tidak dapat lepas dari masyarakat pendukungnya. Apapun bentuk tarinya, keberadaan tari dengan lingkungannya merupakan suatu masalah sosial yang perlu diperhatikan. Sama halnya dengan tari Radha Sudana yang awalnya dipentaskan guna memenuhi persyaratan Ujian Tugas Akhir (TA) untuk mencapai gelar Strata 1 (S-1) tahun 2008. Setelah pementasan awal tersebut, selanjutnya tari Radha Sudana ini dipentaskan pada Grand Opening Krisna Oleh-Oleh Khas Bali yang diadakan di Hotel Nikki sebagai maskot Krisna Oleh-Oleh Khas Bali atas permintaan pemilik toko tersebut. Kemudian tari Radha Sudana ini dipentaskan lagi, seperti untuk mengisi acara yang sama di Krisna Oleh-Oleh Khas Bali, Jalan Nusa Kambangan, dan di Sunset Road. Tarian tersebut bahkan dipentaskan sampai ke Jakarta dalam rangka promosi toko Krisna Oleh-Oleh Khas Bali. Namun selain itu tari Radha Sudana ini juga pernah dipentaskan berkaitan dengan upacara keagamaan, seperti upacara Homa yang dilaksanakan di Jembrana dan Buleleng atas permintaan pendeta upacara, serta untuk ngayah di pura Tegeh, Tampak Siring, Gianyar atas permintaan dari masyarakat setempat.
Tari Radha Sudana ini rencananya akan dipentaskan pada tanggal 29 Mei 2009 di lapangan Astina, Gianyar, sebagai pendamping Gong Kebyar kabupaten Gianyar. Sejak digunakan sebagai maskot oleh Krisna Oleh-Oleh Khas Bali, tari Radha Sudana berubah nama menjadi tari Radha Kresna karena menurut penggarap nama tersebut lebih dikenal masyarakat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tari Radha Sudana ini mendapat pengaruh dari India karena penggarap termotivasi oleh tokoh Kresna dan Radha yang dilihatnya dalam gambar. Dari melihat gambar tersebut, kemudian penggarap menuangkannya dalam bentuk tari kreasi baru yang bernuansa India. Hal tersebut dapat dilihat dari cerita, perbendaharaan gerak, kostum, serta iringan yang digunakan.
Dengan digunakannya nuansa India tersebut, maka memunculkan gerak-gerak inovatif yang merupakan perpaduan antara gerak tari Bali dengan India. Di samping itu, nuansa tersebut berdampak pada kostum yang merupakan perpaduan antara kostum tari Bali dengan kostum India, sehingga memberikan warna baru dalam kostum tari Bali. Dampak tersebut juga berpengaruh pada iringan dengan digunakannya vokal yang seperti notasi India.
Dengan pengaruh budaya India yang terdapat dalam tari Radha Sudana, tari tersebut dapat diterima di masyarakat yang terbukti bahwa karya tersebut dipentaskan sebagai maskot toko Krisna Oleh-oleh Khas Bali, dipentaskan dalam upacara Homa di Jembrana dan Buleleng, serta dipentaskan dalam rangka ngayah di pura Tegeh, Tampak Siring yang merupakan permintaan masyarakat setempat.
Selain motivasi yang datang dari diri, penggarap juga mendapat dukungan dari orang-orang terdekat. Sehingga garapan tari Radha Sudana dapat diwujudkan dan berkembang.

3.2 Saran-saran
dari hasil pembahasan diatas maka saran yang dapat disampaikan adalah tari radha sudana harus lebih dipublukasikan dan dikembangkan sehingga dapat menambah ragam tari-tari kreasi yang bisa eksis di masyarakat. Selain itu juga dihimbau agar mempertimbangkan hal-hal yang memberikan dampak positif dan negatif terhadap garapan dengan penggunaan pengaruh budaya asing. Sehingga nantinya tidak merusak identitas tari Bali, namun memperkaya ragam jenis tari-tarian Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Ida Ayu Gede Prayitna. “Radha Sudana: Skrip Karya Tari” guna memperoleh gelar Sarjana S-1 Institut Seni Indonesia Denpasar. 2008.
Dibia, I Wayan. Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI). 1999.
Hadi, Y. Sumandiyo. Sosiologi Tari. Yogyakarta: Pustaka. 2007.
Soedarsono, R. M. Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2002.

DATA INFORMAN
Nama : Ida Ayu Gede Prayitna Dewi, S.Sn.
Tempat/tanggal lahir : Tabanan, 19 September 1985
Alamat : Br. Wanasari Tengah, Kabupaten Tabanan
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Seniman
Umur : 24 tahun

Hello world!

January 8, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.